Semua kisah itu akan aku ceritakan

ifroh

Hoi,hoi,hoi, pembacaku yang gaib. Apa kabar kalian? Masih bernapas gak?

Mulai besok aku berencana untuk kembali mengisi blog ku ini dengan cerita-cerita perjalanan beberapa ta

hun belakangan. Sayang aja rasanya kalau perjalanan itu gak dibagi padahal banyak pembelajaran yang bisa di dapat. Karena setiap perjalanan menghasilkan pembelajaran.

Selain itu, aku juga ngeblog dengan tujuan agar aku bisa terus menulis setiap hari. Kan gak lucu aja kalau ngaku penulis tapi nulis aja jarang. Nanti kita bisa sharing-sharing juga mengenai tips perjalanan supaya murah dan low budget.

Sedikit bercerita, dulunya jalan-jalan keluar kota itu kayak mimpi. Tapi semenjak perjalanan itu dimulai, semuanya jadi terasa dekat,dan hari ini Alhamdulillah seluruh kota besar di sumatera udah di jalananin. Petualangan-petualangan itu selalu menghasilkan cerita-cerita baru. Bahkan ada yang berbuah cinta. Perjalanan apa itu? Sabar ya, nanti aku ceritakan di pengalaman selanjutnya.

Tapi kayaknya gak Cuma tentang perjalanan. Pengalama-pengalaman baru juga bakal aku kisahkan disini. Melakukan hal yang selama ini gak terbayangkan. Bicara layaknya motivator di depan panggung. Ngomong pakai dasi plus kemeja. Gimana kok bisa terjadi ya? Doakan umur panjang dan aku mampu istiqomah untuk terus menulis disini.

Sebenarnya pembaca disini gak terlalu banyak sih. Aku juga gak tau angka pastinya berapa, apakah 5 atau 3, atau gak ada sama sekali. Ah, tapi biarlah. Biarkan saja pembacanya sedikit. Karena yang

lebih penting dari sebuah tulisan adalah seberapa istiqomah penulisnya untuk mau terus berbagi dan memberikan manfaat lewat tulisan-tulisannya.

Karena menulis adalah sebuah proses kreatif yang untuk menghasilkan tulisan bagus membutuhkan pengulangan-pengulangan secara terus menerus, berkesinambungan dan konsisten pastinya.

So, lets rock.

Aku juga ngerencanain. Ntar ada give away di blog ini. Doain ntar murah rezeki ya.

Iklan

Kisah perjalanan itu akan aku ceritakan disini

ifroh

Hoi,hoi,hoi, pembacaku yang gaib. Apa kabar kalian? Masih bernapas gak?

Mulai besok aku berencana untuk kembali mengisi blog ku ini dengan cerita-cerita perjalanan beberapa tahun belakangan. Sayang aja rasanya kalau perjalanan itu gak dibagi padahal banyak pembelajaran yang bisa di dapat. Karena setiap perjalanan menghasilkan pembelajaran.

Selain itu aku juga ngeblog dengan tujuan agar aku bisa terus menulis setiap hari. Kan gak lucu aja kalau ngaku penulis tapi nulis aja jarang. Nanti kita bisa sharing-sharing juga mengenai tips perjalanan supaya murah dan low budget.

Sedikit bercerita, dulunya jalan-jalan keluar kota itu kayak mimpi. Tapi semenjak perjalanan itu dimulai, semuanya jadi terasa dekat,dan hari ini Alhamdulillah seluruh kota besar di sumatera udah di jalananin. Petualangan-petualangan itu selalu menghasilkan cerita-cerita baru. Bahkan ada yang berbuah cinta. Perjalanan apa itu? Sabar ya, nanti aku ceritakan di pengalaman selanjutnya.

Tapi kayaknya gak Cuma tentang perjalanan. Pengalama-pengalaman baru juga bakal aku kisahkan disini. Melakukan hal yang selama ini gak terbayangkan. Bicara layaknya motivator di depan panggung. Ngomong pakai dasi plus kemeja. Gimana kok bisa terjadi ya? Doakan umur panjang dan aku mampu istiqomah untuk terus menulis disini.

Sebenarnya pembaca disini gak terlalu banyak sih. Aku juga gak tau angka pastinya berapa, apakah 5 atau 3, atau gak ada sama sekali. Ah, tapi biarlah. Biarkan saja pembacanya sedikit. Karena yang lebih penting dari sebuah tulisan adalah seberapa istiqomah penulisnya untuk mau terus berbagi dan memberikan manfaat lewat tulisan-tulisannya.

Karena menulis adalah sebuah proses kreatif yang untuk menghasilkan tulisan bagus membutuhkan pengulangan-pengulangan secara terus menerus, berkesinambungan dan konsisten pastinya.

So, lets rock.

Aku juga ngerencanain. Ntar ada give away di blog ini. Doain ntar murah rezeki ya.

 

4 Pilar dan Dinamika media sosial

Malam itu, 20 Maret 2018 kami (para tetamu) disambut dengan hangat oleh panitia untuk mendengarkan sosialisai 4 Pilar, kegiatan yang dilaksanakan di salah satu hotel di kota medan menghadirkan dua orang anggota MPR RI. Menyenangkan sekali pembicaraan yang diawali dengan makan malam bersama tersebut.

Bercerita tentang 4 pilar maka kita akan membahas Pancasila, kemudian Bhineka Tunggal Ika, UUD 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bagi sebagian orang, keempat hal tersebut adalah pembahasan yang membosankan. Karena sudah sering dipelajari semenjak bangku sekolah dulu. Tapi karena kesepelean tersebut sekarang kita merasakan akibatnya.

Izinkan saya menyampaikan point 4 pilar yang hari ini terancam. Bhineka Tunggal Ika. Setelah media sosial hadir dan menjadi “Tumpuan hidup” masyarakat. Sosial media yang awalnya bisa menjadi pendorong agar masyarakat bisa dengan mudah menjalin silaturahmi malah menjadi pemecah belah bangsa.

Apa buktinya, coba saja teman-teman buka media sosial, maka tidak akan sulit untuk menemukan konten-konten yang berbau politik yang mudah dan mampu untuk memancing para pengguna media sosial untuk membuat keributan. Saling beradu argumen dengan meninggalkan nilai-nilai adab dan sopan santun sebagai budaya ketimuran yang sudah kita anut sejak lama.

Menyedihkan sekali bukan. oleh karena itu kawan-kawan, kita sebagai pengguna media sosial yang bijak harus mau untuk berkontribusi meluruskan apa yang selama ini bengkok. Berbeda pandangan itu biasa, tapi perbedaan pandangan jangan sampai membuat kita menjadi terkotak-kotak.

Mari kembali menyadari bahwa persatuan adalah hal penting untuk kebaikan bangsa ini. Mari kita kuatkan 4 pilar pemersatu bangsa. Yang menjadi kapal yang akan membawa kita pada tujuan para pendiri bangsa yang termaktub di dalam pembukaan undang-undang dasar 45.

Kalau bukan sekarang, kapan lagi. Kalau bukan kita, siapa lagi?

Berawal dari “Tenteng kamu”

Hai, sudah lama aku tak menyapa lewat dinding ini. Bercerita hal-hal kecil yang semoga selalu berdampak besar. Boleh ya, aku menghidupkannya kembali. Disini nyaman. Aku bebas menulis tanpa harus tertekan dengan berbagai macam persyaratan. Menyenangkan sekali rasanya. Mencurahkan cerita dengan untaian kalimat-kalimat sederhana.

Kali ini aku mau cerita tentang penulis fiksi favoritku. Tere Liye. Bukunya yang berjudul daun yang jatuh tidak pernah membenci angin yang pertama kali mencemplungkanku ke dunia fiksi. Membuatku lebih mengenal bagaimana membuat sesuatu sederhana menjadi enak dibaca. Manyeret pembacanya tenggelam dalam cerita. Berimajinasi. Lalu ikut terisak, tertawa, merenung, terkejut, penasaran, dan Rindu.

Beberapa tahun lalu, aku mendengar dari mulut bang tere. Bahwa pembacanya berkata dia diprotes. Jalan cerita buku-buku yang ia tulis mudah ditebak. Aku protes dalam hati. Enggak ah, jalan ceritanya enggak mudah ketebak. Ceritanya tetap menarik.

Saat itu, aku belum terlalu banyak membaca buku tere liye. Tapi sekarang sudah lebih sepuluh buku yang aku baca, dan aku mulai merasakannya. Perasaan mudah bosan karena tere liye menggunakan pola yang sama dalam bercerita. Novel tentang kamu begitu terang memunculkan gaya bahasa yang sama dengan novelnya yang lain.

Tapi ketahuilah kawan. Bagiku dia tetap penulis cerita fiksi terbaik. Jalan ceritanya masih saja tidak tertebak. Membuat pembaca merasa penasaran dengan kisah selanjutnya. Menuntut pembaca untuk terus menatap lembaran demi lembaran. Selalu ada pembelajaran yang bisa dipetik.

Aku sempat belajar untuk mengenal penulis fiksi lain. Andrea hirata si penulis laskar pelangi. Dee lestari, dengan buku fiksi yang menggunakan konsep fisika dan psikologi. A. Fuadi dengan cerita pesantren dan pengalaman menjelajah dunia. Eka kurniawan dengan buku fenomenal yang bercerita tentang burung.

Semua buku-buku mereka menarik. Tentu saja, sudah menembus level best seller. Membuat pembaca ingin beli lagi dan lagi setiap ada karya baru yang ditetaskan. Semua memiliki gaya masing-masing. Ciri khas tersendiri. Sehingga mereka memiliki warna yang kental dan mudah dikenali.

Aku jadi lebih banyak mengenal gaya menulis semenjak pindah dari keberkutatanku terhadap buku tere liye. Tapi ketahuilah kawan, aku tidak membenci karya tere liye. Aku selalu menyempatkan diri kalau ada bukunya yang bisa kunikmati. Maka akan kuambil, kubaca. Untuk selingkuh sejenak dari dunia nyataku. Dari kehidupanku yang telah ditulis oleh penulis skenario terbaik hidup ini. Bukan untuk lari, tapi untuk mengambil hikmah agar aku bisa lebih bijaksana dalam menjalani kehidupan.

Aku pamit dulu, perutku sudah meminta untuk ditunaikan haknya. Segelas kopi mungkin bisa menemani pagi ini. Untuk mengawali rutinitas dan menyongsong senin yang kata sebagian orang amat membosankan. Hahahah…

Prancis Vs Portugal & Ronaldo Effect

portugal-vs-prancis_20160710_071430

Bisa dibilang portugal bukanlah tim yang terlalu di jagokan pada euro kali ini(2016). Tapi setelah terseok-seok di babak penyesihan secara mengejutkan mereka mampu mencapai babak final setelah mengalahkan Wales di semi final dengan skor 2-0. Bahkan sebagian orang menjagokan portugal sebagai juara. Bukan hal yang tidak mungkin memang kalau portugal juara. Akan tetapi apabila melihat track recordnya sejauh ini, Ronaldo Dkk akan cukup kesulitan. Karena prancis terlihat lebih diuntungkan dari segi pemain yang lebih berkualitas serta dengan jam terbang yang jauh lebih baik di banding pemain portugal.

Tapi pertanyaannya, kenapa tetap saja banyak orang yang yakin portugal mampu menang? Yap, Ronaldo Effect. Pemain yang berpengaruh bagi klub raksasa Real Madrid ini memiliki banyak fans di seluruh dunia. Sehingga membuat banyak orang menutup mata, yakin portugal akan mampu mengalahkan prancis. Tanpa mempertimbangkan fakta-fakta yang ada. Tapi ini menjadi hal yang menarik untuk pertandingan yang akan digelar sebentar lagi. Pendukung akan jadi seimbang. Dan juga bukan tidak mungkin Tim Portugal berhasil merebut piala pertamanya walaupun kansnya untuk menang tidak sebesar prancis yang bermain di kandang sendiri. Sekali lagi, bola itu bundar.

Tapi ada satu pelajara penting yang bisa diambil disini, Ronaldo yang menjadi pemain paling diperhatikan seolah mampu menyihir para penikmat bola, dengan teman-temannya yang tidak terlalu sebanding secara jam terbang dengannya. Para fans tidak perduli dengan keadaan Tim Portugal, mereka hanya tahu. Disitu ada Ronaldo. Maka dari itu pelajarannya adalah, jadilah orang yang besar, jadilah orang yang berpengaruh, maka itu bisa berpengaruh bagi orang disekitar kita. Mampu memberikan energi yang lebih bagi orang disekitar kita. Seolah pohon besar yang mampu menaungi orang-orang yang berteduh di bawahnya.

Aku adalah salah satu fans Ronaldo, tapi aku tidak terlalu yakin portugal mampu menang. Dan semoga itu salah. Selamat menikmati pertandingan yang akan berlangsung sebentar lagi.

Buat yang pasang taruhan, ayolah. Nikmati permainan ini. Jangan iringi dengan kejahatan yang sebenarnya hanya merugikan kita.

Salam Damai.

Kelompok Paling benar

Akhir-akhir ini aku sering sekali melihat kegaduhan antar satu kelompok dengan kelompok yang menurut mereka berseberangan padahal hakikatnya mereka memiliki satu tujuan. Baik itu kelompok yang berbentuk partai, organisasi maupun kelompok yang bersifat agamis. Mereka saling serang dengan membabi buta, membela kelompoknya seolah-olah membela harga diri, meskipun terkadang kelompoknya itu sudah jelas-jelas salah.

Ada satu quote yang sudah merubah cara fikirku tentang hal seperti itu yang bunyinya “Setia itu pada prinsip, bukan pada kelompok. Karena prinsip baik itu menetap, sedangkan kelompok bisa berubah sewaktu-waktu”. Begitulah kira-kira bunyinya. Nah, dari situ aku mulai melihat dan memahami apa penyebab mereka terlalu membela kelompoknya. Mereka tidak menggigit prinsip baik melainkan hanya mengikuti membabi buta. Tidak perduli meski satu agama.

Hanya karena mereka berlabuh pertama kali di kelompok itulah makanya seseorang menganggap kelompoknya yang benar. Andai kata dia berlabuh di kelompok satunya lagi, maka siap-siap kelompok lain adalah yang salah. Ilustrasinya seperti ini, budi pertama kali ikut organisasi A, sedangkan organisasi A berlawanan dengan organisasi B, maka jangan heran si budi akan membenci organisasi B. Dan begitu pula sebaliknya. Walaupun si budi tidak mengenal secara dekat seperti apa orang-orang di organisasi B. Jangan heran kalau si budi akan memaki-maki organisasi B di status Fbnya.

Nah, itulah realita yang terjadi saat ini. Kelompok pengajian A menyesat-sesatkan pengajian B. Begitu pula B karena sakit hati membalas balik dan seterusnya meskipun mereka memiliki tujuan yang sama, mendakwahkan agama serta berharap ridho tuhan yang maha esa. Padahal andai kata mereka mau untuk bersinergi, mereka bisa menjadi sebuah kekuatan besar, tujan bisa tercapai dengan cara yang semakin bervariasi walaupun dalam beberapa hal mereka berbeda karena pemahaman yang sudah dibangun dari awal sehingga menolak pemikiran orang lain.

Dikampusku, jangan heran kalau hanya berebut untuk menjadi ketua HMJ (himpunan mahasiswa jurusan) saja harus diiringi dengan tawuran antar organisasi. Padahal yang direbut hanya sekedar jabatan yang tidak bisa membuat seseorang menjadi kaya. Heran sekali melihatnya, nyawa mereka jadi kelihatan murah sekali, (Meskipun itu bisa menjadi penghibur disela-sela kebosanan kampus). Mahasiswa yang disebut-sebut sebagai “agent of change” ternyata tidak menggambarkan harapan yang ada.

Masih banyak contoh lain dan boleh jadi itu sedang terjadi pada diri kita tanpa kita sadari. Brother, sudahlah. berhenti memaki. Berhenti mengumpat dan mencela kelompok yang berseberangan dengan kita. Masalah yang ada sebenarnya jauh lebih besar, dan kita harus menggunakan energi kita untuk hal-hal besar, jangan sampai kita membuang-buang energi untuk hal-hal sepele. Sementara diluar sana banyak orang yang berjuang untuk bisa bertahan hidup ditengah gempuran BOM dan sulitnya untuk mendapatkan sesuap nasi. Belum lagi menahan kungkungan pemerintahan yang kerjanya hanya menyengsarakan.

Cobalah untuk gabung dengan kelompok tetangga, makan bersama, main bersama, jalan-jalan bersama, supaya kita bisa tau, ooo… ternyata dia baik juga orangnya. Ternyata dia asyik diajak berteman. Ternyata apa yang dia sampaikan ke orang-orang hampir sama dengan apa yang saya sampaikan. Kenapa aku katakan seperti itu, karena itulah yang aku rasakan, aku mengikuti beberapa organisasi, yang manasatu dengan yang lain berseberangan, saling perang opini. Yang penyebabnya adalah karena antar kelompok itu tidak saling kenal baik. Hanya mendengarkan ucapan-ucapan kata orang. Kata orang mereke seperti ini, kata orang mereka seperti itu. Andai kata kita dijelek-jelekkan oleh seseorang. Padahal kita juga tidak kenal siapa dia. hanya saja katanya, Dia itu tahu tentang kita dari orang lain. Alangkah sakit hatinya kita. Buruk sebelum kenal, buruk sebelum pernah dekat.

Tapi ada satu hal yang unik, beberapa kali. Aku melihat petinggi-petinggi kelompok ini saling akrab, hanya kroco-kroconya yang bikin onar, entahlah. Apakah karena sedikitnya ilmu atau karena apa aku juga tidak tahu. Yang pasti, mari berdamai. Mari bersinergi, bekerja sama membangun negeri, dalam mendakwahkan agama ini. Yaitu Islam.

Sepenuh Cinta

M Ifroh Hasyim

Gerhana Tulisan

Setelah tidak menulis selama seminggu, maka dengan tidak ditemani secangkir kopi, aku putuskan untuk kembali menulis.

Suara mouse yang di klik beradu dengan jemari tangan orang yang di ddepanku sesekali terdengar. Hening. Bahkan detak jam pun terdengar. Mereka terlalu khusuk mengerjakan desain majalah kampus. Mungkin mengalakhkan khusuk ketika sholat. Deadline.

Hari ini cukup spesial. media sosial, media tv, media cetak, heboh dengan fenomena alam yang terjadi. sekarang pukul 09.03, kira-kira 3 jam yang lalu, Suara mengaji terdengar sedikit ganjil. Tidak seperti biasanya, padahal subuh sudah berlalu. Artinya masyarakat mulai sadar untuk mengerjakan ibadah shalat sunnah muakkad ini. Bukan sholat ied, melainkan shalat gerhana matahari.

Dan entah kenapa aku tidak punya inspirasi untuk membahas apa kali ini. Maka pesan untuk hari ini adalah.

Menulis itu tidak harus punya inspirasi. tapi menulislah, semoga inspirasi itu kau temukan dengan sendirinya.

Ngomong-ngomong ini udah 9 maret, 21 hari lagi pendaftaran ke turki akan ditutup. Tapi kenapa aku terlalu berleha-leha. Semoga kalian tidak sepertiku, terlalu menyepelekan waktu. Seperti setahun yang lalu, 3 hari terakhir untuk menyelesaikan semuanya.

9 maret 2016

Pejabat PHP

Suara seorang penyanyi dangdut kondang begitu jelas terdengar ditelingaku, bukan hanya satu. Tapi lebih. Tidak, aku tidak sedang menonton konser dangdut. Hanya sebuah ajang perlombaan menyanyikan lagu dangdut di salah satu stasiun TV swasta. Dan para penyanyi dangdut yang lebih senior mengomentari mereka. Dan sesekali diselingi candaan dari pebawa acaranya. Tapi ada satu hal penting, aku tidak sedang menonton tv, hanya mendengarkan dari kamar. Sembari menopangkan dagu diatas guling yang sedang kulipat dua. “andai kata kedua orang tuaku tidak hobi menonton acara seperti itu, mungkin aku akan lebih sering bergabung sembari bercengkrama bersama mereka” khayalku.

Menonton acara tv sekarang sudah semacam aib bagiku. Entahlah, menurutku semakin lama acara di tv semakin tidak berkualitas. Apa mungkin menyesuaikan dengan selera para penikmatnya, yang artinya penurunan kualitas warga negara indonesia raya tanah airku, tanah tumpah darahku, disanalah, aku berdiri (loh, bacanya kok sambil nyanyi).

***

Hari ini masih seperti biasa, aku berangkat kuliah kepagian, menitipkan tas di sekretariat, lalu berjalan kedepan aula sambil menikmati udara pagi. Sambi memandangi keindahan ciptaan tuhan, ah, rasanya sulit sekali menundukkan pandangan ini. Untung android yang kugenggam menambah kekuatanku untuk lebih sering menunduk. Tak lama aku terduduk sendiri, seorang fotografer menghampiriku, lalu duduk tepat disebelahku. Kamera yang ia genggam kini ia letakkan tepat berada diantara posisi kami duduk.

Isi pembicaraan kami jadi menarik, ketika ia menceritakan perpolitikan di kabupatennya. Dan lagi, politik kotorlah yang menjadi pembahasan. Sampai kapan negeri ini akan membaik ya Rabb. Semoga penerusnya kelak mampu memperbaiki sebagaimana yang engkau perintahkan.

Berselang sekitar satu jam, kami memutuskan untuk masuk ke aula utama kampus. Ada seminar yang harus diliput. Begitu kami memasuki ruangan, lebih banyak kursi kosong dari pada yang ditempati oleh peserta. Gubernur dan pejabat daerah yang seharusnya mengisi seminar tidak jadi datang. Sudah jadi hal yang biasa. Hampir setiap aku mengikuti atau menjadi panitia seminar yang akan dihadiri orang besar (katanya) maka mereka akan diwakilkan ujung-ujungnya. Peserta kecewa, apalagi panitianya, belum lagi harus dihinggapi rasa malu.

Maka pesan yang ingin kusampaikan adalah,

Jangan berjanji kalau memang tidak bisa ditepati, karena penghiatanmu adalah pelecehan untuk orang lain.

2 Maret 2016

Menuju Konstantinopel

Pagi ini, sinar mentari masih enggan menyapa kulitku, meskipun jam sudah menunjukkan pukul 08.00. malah sepoi angin ditemani dingin yang masih mengelus kulitku dengan lembut. Sesekali suara kendaraan lewat terdengar jelas. Karena ruanganku terduduk tepat berada disebelah jalan TOL. Mentari perlahan berarak naik, namun sengatrnya terhalangi awan mendung.

Sesekali aku menyentuh lembut peranti lunak yang ada di depanku, seperti biasa bacaan-bacaan berat mengenai perpolitikan, perang pendapat antar satu organisasi, terlalu berat untukku yang akan mengawali hari. Karena hari ini adalah hari pertama aku mengikuti perkuliahan. Entah mereka sengaja memberikan beban berat kepada calon penerus bangsanya, atau mereka memang senang memancing keributan. Belum lagi sengat mentari pagi yang sudah tidak sabar ingin mengusik ketenanganku.

Tapi ah sudahlah, paling tidak cahayanya mampu memberiokan efek baik bagi kulitku yang sudah kecoklatan, entah karena faktor kesukuan, ataupun aku yang sesekali senang bermain dengan sengatnya disiang hari.

Tapi ada satu kabar gembira yang mengubah moodku pagi ini, pembukaan penerimaan beasiswa S1 ke turki. Perjuanganku untuk kesana dimulai hari ini. 1 maret 2016.

Lancang

wajahmu terus muncul di setiap aku membuka media sosial.

pun muncul saat aku menatap langit-langit kamar.

tapi sekarang kita sudah berjarak.

kau bermain di hati yang lain.

sedangkan aku hanya bisa menatap sedih dari kejauhan.

semua terwujud tapi hanya dalam khayalan.

khayalan yang tak berhenti kurangkai.

rasa ini berbau busuk, menyiksaku setiap hari.

merinduimu hanya seperti menggenggam mawar berduri.

semakin erat, semakin sakit tak terperi.

ingin kulepas tapi durinya sudah terlanjur dalam.

berharap keajaiban, semoga esok aku terbangun dari mimpi perusak malam.